| UNESCO dan jaringan kerjasama antar negara |
| Written by Ratna T. Sinaga, Kasubbid Pendidikan | |
| Monday, 23 July 2007 | |
|
(Kualalumpur, 21–23 Mei 2007) – Bekerjasama dengan Komisi Nasional Malaysia untuk UNESCO, UNESCO Paris telah menggelar seminar international dengan tema ”Training Seminar for New Officials of Asian National Commissions for UNESCO” di Kualalumpur, tanggal 21 – 23 Mei 2007 bertempat di ruang konperensi Hotel Parkroyal, Kualalumpur, Malaysia. Seminar tersebut digelar UNESCO Paris secara berkala sejak tahun 2006 disesuaikan dengan kesediaan Komisi Nasional untuk UNESCO negara anggota setempat dan field office UNESCO setempat. Tujuan dari seminar tersebut adalah untuk meningkatkan peran dan kapasitas Komisi Nasional untuk UNESCO dalam rangka meneruskan gagasan, implementasi dan program UNESCO kepada institusi tingkat nasional, regional dan sub-regional, antara lain: program antar pemerintah, program Penghargaan UNESCO, peringatan hari internasional, persiapan dan tindak lanjut kegiatan internasional, nominasi eksper nasional untuk kegiatan UNESCO, desentralisasi, kemitraan, program partisipasi dan program fellowship, program kerjasama dengan LSM dan mitra masyarakat madani, ASP-Net, pencalonan lowongan formasi di Sekretariat UNESCO. Peserta seminar terdiri atas perwakilan Komisi Nasional 23 negara kawasan Asia, yakni: Bangladesh, Bhutan, Brunei Darusalam, China, Filipina, India, Indonesia, Iran, Kamboja, Kazakstan, Kirgistan, Laos, Maladewa, Malaysia, Mongolia, Nepal, Pakistan, Korea Selatan, Sri Langka, Tajikistan, Thailand, Uzbekistan, Vietnam dan 2 calon Komisi Nasional dari negara Singapura dan Timor Leste, serta sejumlah pelaku pendidikan dari pihak penyelenggara Malaysia. Para pemakalah berasal dari UNESCO Bangkok, UNESCO Jakarta dan UNESCO Paris. Seminar dibuka oleh Datuk Dr. Zulkurnain Haji Awang, Wakil Presiden Komisi Nasional Malaysia untuk UNESCO, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Malaysia. Datuk Awang menyampaikan agar seminar tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para peserta sehingga kerjasama antara UNESCO Paris dan Komisi Nasional dapat ditingkatkan dan antar sesama Komisi Nasional dapat lebih dikembangkan. Selama dua hari para peserta seminar memperoleh masukan informasi terkini tentang UNESCO melalui presentasi power-point dari 6 pemakalah. Mr. Xiaolin Cheng (UNESCO Paris) memaparkan antara lain peran Komisi Nasional dalam merespons proses desentralisasi dan kerjasamanya dengan kantor UNESCO Paris, Regional Office serta Field Office, Strategi Konsep Program Jangka Menengah, 2008-2013 (34 C/4), program UNESCO Fellowship, Participation Programme serta Persiapan Sidang Umum UNESCO ke-34 di Paris. Kemudian Mr. Massoud Abtahi (UNESCO Paris) menjelaskan tentang peran sentral parlemen, pemerintah kota dan kabupaten serta LSM, yang cukup signifikan dalam menyebarluaskan dan memberdayakan program UNESCO. Sementara itu Hon Margaret Austin (UNESCO Paris) memaparkan tentang peran dan tanggung jawab Komisi Nasional terhadap Sidang Umum UNESCO ke-34 serta strategi komunikasi untuk mempromosikan program UNESCO ke masyarakat luas. Dr. Hubert Gijzen, Direktur UNESCO Office Jakarta, menyampaikan gambaran umum UNESCO, antara lain peran dan tantangannya ke depan, dan penjelasan tentang program prioritas tahun 2006-2007 (33 C/5) dan Rancangan Program dan Budget tahun 2008-2009 (34 C/5), sementara Mr. Abdul Hakeem, Koordinator APPEAL, UNESCO Bangkok, menerangkan mengenai peran UNESCO Bangkok di kawasan Asia Pasifik. Mr. Shanta K. Retnasingam (UNESCO Paris) mengakhiri paparan mengenai tema sumber-sumber pendanaan swasta. ![]() Peserta dari Indonesia, Brunei Darulsalam, Thailand, dan China UNESCO sebagai salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dikenal sebagai ‘laboratory of ideas’ berusaha terus memperbaiki dan mengembangkan diri dengan meluncurkan program-program kegiatan yang cukup ambisius, misalnya dalam Sektor Pendidikan dengan program-program Pendidikan Untuk Semua, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Sepanjang Hayat, Literacy Initiative for Empowerment, dan sebagainya, yang semua itu ditujukan bagi pencerdasan generasi muda dan masyarakat terbelakang di seluruh dunia. Para peserta workshop sangat antusias untuk mengemukakan pertanyaan dan terlibat dalam diskusi yang hangat. Selain itu mereka memperoleh sejumlah informasi terkini tentang program dan perkembangan UNESCO, termasuk penjelasan reformasi UNESCO dalam hal desentralisasi kebijakan pelaksanaan program, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan negara anggota setempat. –ooo- |
|
| Last Updated ( Thursday, 26 July 2007 ) |