|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 08 April 2012 01:22 |
|
We are pleased to invite the UNESCO Associated Schools (ASPnet) in your country to participate in this year’s Global Action Week (GAW) from 23 to 29 April 2012. Under the slogan "Rights from the Start! Early Childhood Care and Education Now!", Global Action Week 2012 will focus on the first of the six Education for All (EFA) Goals: "Expanding and improving comprehensive early childhood care and education, especially for the most vulnerable and disadvantaged children". GAW is an annual event organized by the Global Campaign for Education (GCE), a coalition of NGOs and teacher unions in more than 100 countries, in order to raise awareness of the EFA movement. UNESCO has been an active supporter of GAW since its inception and actively encourages its partners and networks to organize and participate in activities. To facilitate your participation in the Global Action Week, you can consult the following links: - UNESCO’s website on Global Action Week
- GCE’s website on Global Action Week
- Contact your GCE National Coalition
You are also invited to contact your respective UNESCO Field Office to ensure well-coordinated activities at country level. Please inform the ASPnet International Coordination of activities related to the campaign which we might publish on the EFA and ASPnet websites to give visibility to your action! We look forward to the contribution of ASPnet to the cause of Education for All and thank you for your support. |
|
Seminar Nasional Perjuangan Dipanegara |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 14 July 2011 06:10 |
|
Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kemendiknas bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika, LIPI, Universitas Diponegoro, Perpustakaan Nasional, Arsip Nasional, Badan Kerjasama Kebudayaan/Kesenian Indonesia (BKKI), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan Semintar Nasional Perjuangan Dipanegara. Peserta terbatas dan gratis, plus ada merchandise* buat peserta. Diharapkan para pemerhati sejarah, guru sejarah, instansi dan masyarakat umum yang tertarik pada pendidikan karakter bangsa dapat berpartisipasi.
Pendaftaran paling lambat tanggal 19 Juli 2011. Silahkan unduh versi PDF nya disini. |
|
Last Updated on Thursday, 14 July 2011 06:36 |
|
Program L’ORÉAL-UNESCO for women in science |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 23 June 2011 10:06 |
|
The World Needs Science…Science Needs Women Program L’ORÉAL-UNESCO for women in science didirikan pada tahun 1998 dan diperbarui pada tahun 2004 oleh L’Oréal dan UNESCO di tingkat internasional, program For Women In Science merupakan suatu hasil kemitraan umum-swasta unik yang ditujukan untuk mengakui, menyemangati dan mendukung wanita di bidang sains di seluruh dunia. Sejak dibentuk, program ini telah memberi pengakuan kepada lebih dari 1000 ilmuwan perempuan berbakat dari 103 negara di seluruh dunia. Program L’OREAL-UNESCO For Women In Science, difokuskan pada tiga kegiatan utama: - L’OREAL-UNESCO Awards: Memberikan penghargaan pada peneliti wanita mapan yang telah mengkontribusikan sebagian besar dari hidup dan karir mereka di bidang life science dan material sciences melalui penghargaan, yang merupakan basis dari program For Women in Science. Penghargaan tahunan senilai USD 100,000 untuk tiap pemenang, diberikan pada lima wanita peneliti atau Laureate, satu orang untuk tiap benua, sebagai figur untuk generasi baru.
- L’OREAL-UNESCO Fellowship - Internasional: Diadakan tiap tahun sejak 2000 dan diberikan kepada 15 perempuan peneliti muda – 3 dari tiap benua - baik tingkat doktoral atau post-doktoral, menekankan pada kerjasama sains ditingkat internasional serta mengembangkan jaringan antar kultur. Masing-masing pemenang Fellowship Internasional, diberikan pendanaan senilai USD 40,000 guna mendukung proyek penelitian yang mereka ajukan untuk jangka waktu dua tahun.
- L’OREAL-UNESCO Fellowship - Nasional: Di Indonesia, program ini telah diselenggarakan sejak tahun 2004 atas kerjasama didukung oleh Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. Setiap tahunnya L’Oréal Indonesia Fellowships for Women in Science menganugerahi perempuan peneliti muda Indonesia, yang terdiri dari 2 orang dengan penelitian di bidang Life Sciences dan 2 orang di bidang Material Sciences, dengan bantuan pendanaan penelitian senilai tujuh puluh juta rupiah kepada masing-masing pemenang.
Hingga 2010, sebanyak 20 orang perempuan peneliti muda dari seluruh Indonesia yang terdiri dari 16 orang peneliti bidang Life Sciences dan 4 orang peneliti bidang Material Sciences telah menerima Fellowship dari program L’Oreal-UNESCO For Woman in Science untuk riset mereka yang berdampak positif dan signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di Indonesia. Tiga diantara mereka mendapat pengakuan internasional melalui L’Oreal-UNESCO For Woman in Science International.
Tentang L’ORÉAL Dengan pengalaman selama 100 tahun di industri kecantikan, saat ini Grup L’Oréal merupakan perusahaan kecantikan nomor satu di dunia dengan angka penjualan konsolidasi sebesar 17,5 milyar Euro di tahun 2009. Dengan total karyawan sebanyak 64.600 orang di seluruh dunia, L’Oréal hadir di 130 negara melalui 23 brand internasional dengan portofolio yang beragam namun saling melengkapi.
Sebagai investor terbesar industri kecantikan di bidang riset dan pengembangan, L’Oréal senantiasa menjamin inovasi dan nilai tambah di setiap produknya. Saat ini L’Oréal memiliki 18 pusat riset yang tersebar di Eropa, Asia dan Amerika dengan 3313 orang staf peneliti yang menghasilkan sekitar 5000 formula setiap tahunnya.
Di Indonesia, L’Oréal telah hadir sejak tahun 1979 dan saat ini dikelola melalui dua entitas yaitu: PT L’Oréal Indonesia, yang menangani aktivitas pemasaran dan distribusi, serta PT Yasulor Indonesia, yang berkonsentrasi di bidang manufaktur. Merek-merek L’Oréal yang hadir di Indonesia termasuk L’Oréal Professionel; Kérastase Paris; Matrix; L’Oréal Paris; Maybelline New York; Garnier; Lancôme; Biotherm; Shu Uemura; Yves Saint Laurent; Kiehl’s; parfum-parfum Ralph Lauren, Giorgio Armani, dan Diesel; serta The Body Shop yang didistribusikan melalui PT Monica Hijau Lestari. Untuk informasi selanjutnya, kunjungi www.loreal.com
*Catatan: L’Oréal berasal dari kata l’or atau ‘emas’ dalam bahasa Perancis dan dapat ditulis sebagai berikut: L’ORÉAL atau L’Oréal (dengan huruf O besar). Tentang UNESCO Dengan 190 Member States, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) berfungsi sebagai wadah untuk mengembangkan ide-ide dan menentukan standar bagi persetujuan universal yang menangani masalah-masalah etika. UNESCO berupaya untuk menciptakan kemungkinan untuk berdialog secara terbuka, berdasarkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dari berbagai negara dan kebudayaan.
Sejak dibentuk pada tahun 1945, UNESO berdedikasi untuk memberantas segala bentuk diskriminasi dan menyerukan kesamaan derajat antara pria dan wanita melalui kegiatan di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya dan komunikasi. Di sekolah-sekolah di seluruh dunia dilakukan upaya untuk mengurangi perbedaan terhadap murid putri dan putra di tingkat SD dan SLTP. Di bidang komunikasi, diadakan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan wanita yang bertujuan untuk memsosialisasikan pengetahuan untuk penggunaan teknologi.
Di bawah nama “Wanita, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”, UNESCO telah menyelenggarakan enam forum regional dan membentuk serangkaian badan akademis. Organisasi ini juga mengembangkan sebuah metode untuk mengukur akses wanita ke pelatihan ilmiah dan membantu pemerintah mengembangkan peraturan yang layak. Bagi UNESCO, kebutuhan, terutama di Afrika, merupakan prioritas yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.unesco.org
Untuk informasi lebih lanjut mengenai L’Oréal Indonesia, silakan hubungi: Melanie Kridaman Corporate Communications & PR Manager L’Oréal Indonesia Phone: 021-527 6373 Fax: 021-5273058 Email:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Ria Dewi Inke Maris & Associates Public Relations Consultant for L’Oréal Indonesia Phone: 021-8281250 Fax: 021-8351369 Email:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Klik link ini untuk mengetahui informasi yang lebih lengkap (guideline, poster, dan form)
|
|
Empat Sertifikat UNESCO Bukti Pengakuan Dunia |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Saturday, 12 February 2011 06:41 |
KESRA-- 5 FEBRUARI: Menko Kesra Agung Laksono
mengemukakan empat sertifikat dari UNESCO merupakan simbul pengakuan
dunia terhadap beberapa warisan budaya Indonesia, dalam hal ini Wayang
Indonesia, Keris Indonesia dan Batik Indonesia. Ketiganya masuk di
dalam ”The Representative List of the Intangible Culture Heritage of
Humanity”.
Pengakuan dunia tersebut direpresentasikan oleh UNESCO, selaku
organisasi tertinggi dunia di bidang kebudayaan di bawah naungan PBB.
Pengakuan ini tentu saja sebagai suatu keberhasilan bangsa Indonesia
dalam memenuhi persyaratan wajib pada proses nominasi dari warisan
budaya tersebut.
“Kita bersyukur karena ternyata sangat banyak usulan dari berbagai
negara yang tidak lolos nominasi, apalagi sampai terpilih masuk dalam
Representative List tersebut,” kata Menko Kesra di Kemenko, Jumat (5/2)
pada acara penyerahan keempat sertifikat tersebut.
Sertifikat tersebut diserahkan Menlu Marty Natalegawa kepada Menko
Kesra Agung Laksono. Sertifikat tersebut kemudian diserahkan oleh Menko
Kesra kepada Menbudpar Jero Wacik dan yang mewakili Mendiknas. Hadir
juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (Organisasi
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB) Arief Rachman, dan
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
Satu lagi yang membanggakan, selain ketiga sertifikat tersebut,
adalah sertifikat untuk Best Practice Diklat Warisan Batik Indonesia.
Ini suatu penghargaan atas kompetensi dan kesungguhan komunitas batik
Indonesia dalam memelihara kelestarian batik warisan budaya bangsa
Indonesia, melalui pendidikan dan latihan kepada siswa-siswa sekolah.
Penghargaan Best Practice yang diikuti bantuan program atau proyek
elaborasi dari UNESCO berupa penyusunan buku, pembuatan Film dan bahan
pameran untuk road show promosi keliling dunia oleh UNESCO adalah
peluang yang sangat bagus untuk mempromosikan Batik Indonesia ke
seluruh dunia.
Dalam konteks ”Best Practice” ini, menurut Menko Kesra nampak
adanya potensi besar untuk mengharumkan nama Indonesia. Walaupun nilai
proyeknya tidak seberapa besar akan tetapi aspek promosi dari hasil
proyek tersebut akan sangat luar biasa besar apabila kita mampu
menggarapnya dengan baik.
"Pada kesempatan ini tentu saya ingin mengajak kita semua, Bapak
Menbudpar, Bapak Mendiknas, Bapak Menlu, Ibu Menteri Perdagangan dan
seluruh fihak terkait, khusunya Masyarakat Batik Indonesia dan lebih
khusus kepada fihak Museum Batik di Pekalongan, mari kita bersama
memberikan perhatian dan dukungan terhadap pengembangan ”Best Practice”
dengan program-programnya," Kata Menko Kesra. Dikemukakan,
sertifikat UNESCO tersebut masuk dalam kelompok budaya tak benda, yang
mengacu pada Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda
tahun 2003 (Convention on the Safeguarding of Intangible Cultural
Heritage).
Konvensi ini memberikan pengakuan kepada budaya tak benda seperti
budaya lisan; seni pentas; adat istiadat dan perayaan; pengetahuan
tentang alam dan semesta; kerajinan tradisional.
Keuntungan bagi Indonesia dengan dimasukkannya mata budaya
Indonesia kedalam daftar representatif, katanya tidak semata-mata untuk
mendapatkan bantuan teknis dan dana dari UNESCO untuk kepentingan
konservasi, namun justru yang lebih penting adalah pengakuan dunia
terhadap eksistensi seni budaya dan kekayaan alam Indonesia yang
menjadi identitas jati diri bangsa.
Dalam kerangka pikir ini, dengan kekayaan budaya bangsa, khususnya
budaya tak benda yang begitu banyak, semua pihak ingin bersama-sama
berjuang mengusulkan mata budaya-mata budaya lain agar masuk dalam
representasi listnya UNESCO.
"Saya selaku focal point akan mendukung usulan usulan
tersebut. Dalam hal ini Depbudpar selaku instansi teknis punya
kewajiban untuk mendorong masyarakat untuk bersama pemerintah
mengusulkan mata budaya lainnya," tambah Agung.
Pengakuan UNESCO ini diperoleh setelah memenuhi berbagai kriteria
yang tidak mudah. Setelah diterimanya sertifikat ini, tidak berarti
tugas sudah selesai.
Inskripsi UNESCO ini membawa konsekuensi bahwa pihak-pihak
pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan terkait harus terus menerus
secara nyata melestarikan dan mengembangkan warisan budaya takbenda,
sesuai komitmen yang telah dinyatakannya dalam berkas-berkas yang
diajukan kepada UNESCO, agar tetap memenuhi kriteria hingga inskripsi
tersebut tidak dicabut kembali.
Hari Batik Nasional Khususnya terkait dengan
Batik Indonesia, kata Agung; Presiden telah menetapkan tangal 2 Oktober
sebagai Hari Batik Nasional. Hal ini tentu harus disebaruaskan agar
harapan agar Batik Indonesia dapat menjadi Ikon nasional yang
membanggakan bangsa.
Selain itu tentu diharapkan secara ekonomi dapat juga memberikan
dampak positif bagi perkembangan ekonomi rakyat karena semua rakyat
Indonesia memakai pakain batik. Hal ini tentunya agar dapat memberi
keuntungan bagi para pengrajin dan produsen batik.
Menko Kesra mengajak semua pihak berusaha menjadikan Batik
Indonesia sebagai ikon budaya Indonesia yang dikenal di seluruh dunia.
Untuk mencapai itu perlu promosi secara terus menerus baik melalui
pagelaran budaya, pameran, workshop dan bentuk promosi lainnya.
"Saya dengar perwakilan-perwakilan kita di luar negeri telah
melakukan hal ini, untuk itu kepada Pak Marty, Menteri Luar Negeri,
kami ucapkan terima kasih atas peran aktif seluruh jajarannya, dan
mohon kegiatan ini untuk terus dilanjutkan," Katanya.
Indonesia juga akan mencalonkan untuk menjadi anggota Intangible
Cultural Heritage Commitee (Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO)
yang pemilihannya akan dilakukan pada Sidang Umum Negara Pihak Konvensi
bulan Juni mendatang. Agung mengharapkan apabila Indonesia berada di
dalam Komite, dapat ikut menentukan arah kegiatan UNESCO dalam
konservasi budaya tak benda ini.
"Dengan menjadi anggota komite kita harapkan citra Indonesia
sebagai bangsa yang berbudaya tinggi lebih terangkat. Untuk itu, mohon
kepada Pak Menlu agar pencalonan Indonesia di Komite ini dapat
berhasil," tambahnya.
Menko Kesra juga menyampaikan terima kasih kepada Menbudpar Jero
Wacik, atas prakarsanya untuk menominasikan berbagai warisan budaya
daerah. Angklung Indonesia telah dinominasikan kepada UNESCO tahun 2009
yang lalu. Berkasnya telah dinyatakan lengkap oleh Sekretariat UNESCO,
dan pada bulan Mei nanti, akan dibahas Subsidiary Body Komite ICH
UNESCO untuk dinilai.
"Kita harapkan Angklung dapat masuk sebagai Representative List
pada September/Oktober 2010. Untuk pencalonan selanjutnya, saya pikir
kita perlu memprioritaskan mata budaya yang berada di ujung barat dan
ujung timur wilayah Indonesia."
"Dalam kaitan ini saya juga sangat gembira mendapat laporan bahwa
pada 11 Februari nanti, Tim peneliti akan berangkat ke Aceh untuk mulai
menyusun berkas nominasi Tari Saman. Saya berharap kalau selama ini
setiap tahun hanya satu mata budaya yang dinominasikan, untuk kedepan
kita bisa mengirim tiga nominasi mata budaya per tahun."
Proyek pencatatan Sebagai salah satu kewajiban
negara pihak Konvensi 2003 bangsa Indonesia juga mempunyai kewajiban
untuk membuat inventory mata budaya. Untuk itu Menbudpar telah
memprakarsai proyek pencatatan seluruh mata budaya takbenda yang ada di
Tanah Air, dan diharapkan semua pihak akan mendukung upaya-upaya ini
untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya, sebagai bagian
penting jati diri dan kesejahteraan batin bangsa Indonesia.
"Mewariskan budaya kepada anak cucu kita juga merupakan hal yang
penting dalam proses konservasi. Untuk itu kita menyambut baik
pengakuan UNESCO terhadap best parctices yang telah dilakukan oleh
Diklat Warisan Budaya Batik untuk Siswa SD, SMP, SMA, SMK dan
Politeknik dalam Kerjasama dengan Museum Batik di Pekalongan. Praktek
ini telah dikembangkan di Pekalongan sejak tahun 2006 dan juga di
beberapa tempat lain."
"Gagasan memasukkan modul-modul warisan budaya setempat kedalam
kurikulum pendidikan formal sebagai muatan lokal telah dipilih oleh
UNESCO sebagai ”Best Practice” atau cara terbaik untuk menjamin
transmisi warisan budaya kepada generasi penerus," tambah Menko Kesra.
|
|
|