|
Oleh : Dra.Ratna T. Sinaga.MA Kepala Seksi Pendidikan , Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Busan, Korea (Senin (2 Oktober 2006). “Belajar Sepanjang Hayat” (Lifelong Learning/LLL) merupakan konsep pemikiran jangka panjang yang mencakup pendidikan anak usia dini sampai dewasa. Dalam pertemuan “International Policy Dialogue: Challenges in Implementing Lifelong Learning for Adults” pada tanggal 28 September 2006 hingga 1 Oktober 2006 di Busan, Korea Selatan, UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL) bekerjasama dengan Korean Educational Development Institute (KEDI) telah berusaha mengemas secara solid isu LLL melalui kehadiran 113 peserta. Peserta tersebut terdiri dari 32 orang yang mewakili 17 negara (Afrika Selatan, Australia, China, Denmark, Filipina, Indonesia, Inggris, Jepang, Kenia, Korea, Mauritius, Mongolia, Namibia, Nigeria, Thailand, Uruguay dan Zimbabwe) termasuk wakil-wakil dari Association for the Development of Education in Africa (ADEA) Working Group on NFE, SEAMEO Innotech, UNESCO Bangkok Office, UNESCO Dakar Office, dan UIL Hamburg. Sementara itu dari pihak Korea meliputi unsur organisasi KEDI, Korean National Commission for UNESCO (KNCU), Korean Research Institute for Vocational Education and Training (KRIVET) dan Korean National Open University (KNOU).
UNESCO Institute for Education sejak tanggal 1 Juli 2006 resmi dirubah menjadi UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL) dan “International Policy Dialogue” yang akan tetap meneruskan program-program UNESCO dalam bidang keaksaraan, pendidikan non-formal dan pendidikan orang dewasa sebagai bagian dari LLL, termasuk UIL juga sebagai pusat riset , dan pengakuan, validasi dan akreditasi pembelajaran informal, non-formal dan pengalaman hidup. Dialog international tersebut mengetengahkan serangkaian isu LLL dalam pelaksanaannya di negara masing-masing termasuk tantangan (challenges) dan kerangka kerjasama (partnership) di masa mendatang. Tujuan dari dialog tersebut, adalah: 1) Pertukaran pengalaman dalam praktek dan kebijakan pelaksanaan LLL di negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Asia, Australia dan Eropa, 2) Pembahasan konsep dan praktek pelaksanaan LLL, Pendidikan untuk Semua dan pendidikan orang dewasa, 3) Penerapan kebijakan LLL dari satu negara ke negara lain melalui pertemuan dialog internasional tersebut, dan 4) Pengembangan kemitraan dan kerjasama antar negara mengenai LLL. Dalam dialog tersebut juga diangkat isu-isu penting seperti bagaimana budaya belajar dapat disebarluaskan kepada masyarakat melalui konsep LLL, menerapkan kesempatan belajar untuk memperoleh keterampilan dasar, kerangka kualifikasi dan kesetaraan, kemitraan dalam menindaklanjuti LLL, dukungan sepenuhnya untuk belajar jarak jauh dan strategi untuk pengembangan SDM yang berkualitas internasional. Seiring dengan hal itu yang menjadi sasaran utama dari dialog internasional tersebut adalah peningkatan pelaksanaan LLL, khususnya bagi semua orang dewasa yang tidak/belum memperoleh akses terhadap pendidikan non-formal. Termasuk dalam hal ini mereka yang terpinggirkan, yaitu wanita dewasa yang tercatat 2/3 dari 771 juta orang dewasa di dunia yang tidak memiliki kemampuan baca dan tulis, seperti yang dinyatakan oleh Dirjen UNESCO dalam pidatonya pada Hari Aksara Internasional 8 September 2006 yang lalu. Ditambahkan juga dalam pernyataan Dirjen UNESCO tersebut, bahwa secara umum di seluruh dunia anggaran untuk keaksaraan orang dewasa hingga saat ini hanya dialokasikan sekitar 1% saja dari anggaran pendidikan nasional, sehingga tampak selama ini pelaksanaan program pemerintah dan aksi nasional tidak serius memprioritaskan program keaksaraan dewasa dan remaja/pemuda. Jika ingin mengharapkan agar tujuan program UNESCO tentang Dekade Keaksaraaan (2003 – 2012) dan sasaran Pendidikan Untuk Semua sukses, maka alokasi anggaran pendidikan nasional harus ditingkatkan secara serius. Melalui dialog kebijakan internasional yang diikuti perwakilan 17 negara ini diharapkan beberapa permasalahan dapat diangkat dan ditindaklanjuti di masa mendatang, yaitu:: 1) Klarifikasi konsep LLL tentang pendidikan untuk orang dewasa dalam event CONFINTEA (International Conference for Adult Education) dan EFA (Education for All), 2) Rendahnya biaya operasional untuk pengembangan pendidikan formal dan non-formal, 3) Kurangnya perhatian pemerintah terutama di negara-negara berkembang untuk menindaklanjuti LLL, 4) Perhatian terhadap kaum terpinggirkan dan tak beruntung supaya dapat mengakses perkembangan pendidikan, 5) Pembahasan LLL dan kaitannya dalam pendidikan, 6) Instrumen kebijakan nilai yang terintegrasi dalam LLL, 7) Fungsi kepemimpinan bersifat katalistis dan kemauan politik di level pemerintahan tingkat atas, 8) Peran infrastruktur organisasi, 9) isu-isu khusus, umum dan peluang ke depan: dukungan terhadap belajar jarak jauh dan dukungan terhadap pembelajaran, Sumber: Delegasi Indonesia: Drs. Faisal Madani, M.Sc, Dr. Hurip Danu Ismadi dan Dra. Ratna T. Sinaga, MA |