Main Menu
Home
News
Links
Contact Us
Search
E-mail
ASPNet Website
iEARN Indonesia
E 9
I C E
6th E-9 Meeting
7th E-9 Meeting
Popular
Latest News
Home arrow News arrow Latest arrow Jawa Timur Percepat Tuntaskan Buta Aksara

Jawa Timur Percepat Tuntaskan Buta Aksara PDF Print E-mail
Written by KNIU Staff   
Sunday, 10 September 2006
Surabaya (Jumat, 8 September 2006)- ”Penuntasan buta aksara di Indonesia gencar dilaksanakan. Target nasional diharapkan akan tercapai pada 2009. Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) prioritaskan pemberantasan buta aksara lebih cepat.
 
"Buta aksara usia produktif akan tuntas pada akhir tahun 2007",¯ kata Imam Utomo, Gubernur Jatim pada acara Temu Nasional Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara di Surabaya (7/9). Pencapaian tersebut berarti dua tahun lebih cepat dari target nasional, sekaligus target internasional pada 2015.
Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS), penduduk buta aksara di Jatim usia 7 tahun ke atas sebanyak 4,5 juta jiwa. Jatim merupakan provinsi penyumbang buta aksara terbesar di Indonesia.
 
Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Ace Suryadi, penuntasan buta aksara telah menjadi komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah. "Telah keluar Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang pemberantasan buta aksara",¯ kata Ace. Inpres tersebut juga berisi tentang gerakan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.
 
Ace menyatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai tingkat literasi (melek aksara) yang tinggi. "Kita berkomitmen melekkan masyarakat Indonesia", ujar Ace.
 
Bupati dan walikota se-Jatim membentuk tim penggerak (Tim Oprak-oprak) untuk mendata penduduk buta aksara usia 16-44 tahun. Pendataan dilaksanakan dengan melibatkan tim pelaksana mulai dari tingkat kecamatan, desa, sampai RT dan RW.
 
Direktorat Jenderal PLS mengembangkan berbagai model dan inovasi dalam pemberantasan buta aksara. "Yang menarik di sini adalah tiap kabupaten ternyata mempunyai keunikan dalam inovasi yang dibuat. Ternyata komitmen mereka sangat kuat", kata Ace.
 
Ace mencontohkan Kabupaten Gowa menerapkan SPANS (Sanggar Pendidikan Anak Soleh), Kabupaten Bondowoso melakukan pendekatan struktural. Sementara Kabupaten Sukabumi melakukan pendataan per sepuluh rumah,  sehingga didapatkan data yang akurat. Kabupaten Klaten melibatkan tokoh masyarakat, Kabupaten Jember memasang 2.000 spanduk di tempat-tempat strategis. "Bupatinya secara regular terjun langsung ke lapangan untuk mengevaluasi kelompok belajar setiap minggunya",¯ ujar Ace.
 
Kasubdit Pendidikan Keaksaraan Direktorat Pendidikan Masyarakat PLS, Hurit Danu Ismadi menjelaskan, hasil dari temu nasional meliputi rencana aksi berupa program peningkatan motivasi, penyediaan sarana dan prasarana, pendanaan, pelatihan sumber daya manusia, serta monitoring yang efektif. "Ditingkat pusat kami berusaha untuk memfasilitasi rencana aksi tersebut dengan harapan tujuan penuntasan buta aksara dapat tercapai", kata Hurit. ***
 
< Prev   Next >
Indonesian National Commission for UNESCO | © 2006