|
Jakarta, Rabu (23 Agustus 2006)— Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) melalui Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) turut mendukung program dunia dalam usaha pencegahan HIV/AIDS. Salah satu upaya efektif dalam pencegahan penyebarluasan HIV/AIDS melalui jalur pendidikan, mulai usia dini sampai dewasa. Arief Rachman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, mengemukakan Depdiknas telah memulai pendidikan pencegahan HIV/AIDS mulai dari tingkat pendidikan terendah sampai dengan pendidikan tinggi. KNIU bersama dengan Pusat Pengembangan Jasmani, Ditjen Mandikdasmen, PLS, dan Dikti terus mendukung program dunia dalam pencegahan HIV/AIDS melalui pendidikan. ”Guru menjadi ujung tombak dalam memberikan penyadaran dan penyebaran informasi pada siswanya. Perlu juga diupayakan pilot project di sekolah untuk melakukan usaha preventif” kata Arief dalam Seminar Nasional ”Peningkatan Peran Pendidikan dalam Rangka Penanggulangan HIV/AIDS”.
KNIU Depdiknas bekerjasama dengan UNESCO dan Plan Indonesia menyelenggarakan seminar yang diadakan di Depdiknas, Jakarta, pada hari ini (23/8). ”Seminar nasional ini bertujuan untuk mengangkat isu perencanaan dan advokasi peran pendidikan di jajaran pembuat kebijakan sampai tingkat sekolah yang menjangkau sasaran generasi muda dalam program pencegahan HIV/AIDS, baik pada pendidikan formal maupun nonformal,” ujar Arief. PBB menargetkan, upaya pencegahan HIV/AIDS dilakukan untuk mencapai target 90 persen remaja yang telah menerima informasi tentang bahaya HIV/AIDS pada 2010 dan 95 persen pada 2015. Seminar nasional ini diikuti oleh 100 peserta dari Depdiknas, Depkes, Depag, Depsos, Depdagri, Departemen Kehakiman dan HAM, Bappenas, BKKBN, Komnas AIDS, perwakilan perguruan tinggi, dan guru di wilayah Jabotabek. Upaya penanggulangan HIV/AIDS harus segera dilakukan karena penyakit ini sudah menjalar dan menjadi wabah di berbagai negara. Saat ini, 45 juta jiwa di dunia terinfeksi HIV/AIDS dan 3 juta jiwa meninggal pada 2005. Epidemik HIV/AIDS di seluruh dunia menyebabkan krisis sosial, terutama bagi anak-anak dan wanita. Direktur UNESCO Jakarta, Hubert J. Gijzen, menegaskan ”kontribusi pencegahan melalui jalur pendidikan dengan pelatihan guru dan kurikulum juga harus memperhatikan keanekaragaman budaya dan kehidupan sosial.” Direktur PLAN Indonesia, M.K. Ali, menilai pencegahan penyebaran HIV/AIDS melalui sektor pendidikan sangat efektif. ”Ini adalah entry point terbaik sebagai strategi yang diterapkan dunia, yaitu melalui peran kebijakan pendidikan. Kita dapat meningkatkan kerjasama yang lebih efektif sebagai langkah awal dari proses yang panjang dalam mencapai target audience,” ujar Ali.*** |