Main Menu
Home
News
Links
Contact Us
Search
E-mail
ASPNet Website
iEARN Indonesia
E 9
I C E
6th E-9 Meeting
7th E-9 Meeting
Login Form





Lost Password?
Who's Online
We have 20 guests online
Popular
Latest News
Home

2007 UNESCO Literacy Prize winners announced
Written by KNIU Staff   
Tuesday, 17 July 2007

Literacy projects in China, the United States, Nigeria, Senegal and the United Republic of Tanzania are the winners of the five UNESCO Literacy Prizes* this year. The laureates were proclaimed by the Director-General of UNESCO, Koïchiro Matsuura, on the recommendation of an international jury. A programme in Spain was also awarded an Honourable Mention. The theme for this year’s Prize was “Literacy and Health”, in particular, literacy related to general health care, nutrition, family and reproductive health and health-related community development.

The UNESCO International Reading Association Literacy Prize is awarded to the Community Education Administration Centre, Longsheng Ethnic Minority Autonomous County (China). This Centre is based in a remote, rural and mountainous area located in the north-east of Guangxi Zhuang Autonomous Region. The Region has a large ethnic population and a high illiteracy rate among its women.

One of the two UNESCO King Sejong Literacy Prizes goes to the Children’s Book Project (United Republic of Tanzania), a non-governmental organization (NGO) that works to develop a solid reading culture, for the development of a literate environment. Thanks to the production of books in Kiswahili and the training of teachers, writers, publishers and illustrators, it seeks to promote a reading culture among young people and adults by strengthening the local publishing industry.

The other UNESCO King Sejong Literacy Prize awards the men and women of Tostan (Senegal), an organization working with rural communities throughout the country. The work focuses on empowering women and communities. The project helps dealing with such issues as reproductive health, female genital mutilations, and contributes to community development through the respect of human rights.

One of the two UNESCO Confucius Prizes for Literacy is attributed to Reach out and Read (United States), an organization that works closely with health care infrastructures – urban health centres, neighbourhood clinics, hospitals and public health departments – to reach low-income children most at risk of school failure by offering literacy guidance to their families and promoting a reading culture.

The other UNESCO Confucius Prize for Literacy is awarded to Family Re-orientation Education and Empowerment, FREE (Nigeria), an NGO working to establish an effective network for community development through programmes aimed at various beneficiaries, especially women and girls.

The Honourable Mention of the UNESCO International Reading Association Literacy Prize is awarded to the Fundación Adunare, CODEF Adult Education Centre (Spain), an NGO working to build a society that encourages critical thinking and forges relationships through dialogue, through its programme Education of Disadvantaged Groups, also addressing migrants.

The UNESCO prizes are awarded annually in recognition of particularly effective contributions to the fight against illiteracy, one of UNESCO’s priorities. They call attention to the efforts of thousands of men and women who devote themselves year after year to advancing the cause of literacy for all.

The award ceremony will take place on 10 September 2007 in Bamako (Mali) during the African Regional Conference in Support of Global Literacy.




****

* The US $ 20,000 UNESCO International Reading Association Literacy Award was founded in 1979 thanks to the International Reading Association.
The two US $20,000 King Sejong Literacy Prizes were created in 1989 through the generosity of the Government of the Republic of Korea.
The US $ 20,000 UNESCO Confucius Prize for Literacy was established 2005 through the generosity of the Government of the People’s Republic of China.

  • Author(s):Press Release No. 2007-94
  • Source:UNESCOPRESS
  • 16-07-2007
Last Updated ( Monday, 23 July 2007 )
 
Dinamika antar budaya menciptakan sikap toleransi dan keterbukaan
Written by Ratna T. Sinaga, Kasubbid Pendidikan   
Friday, 01 June 2007
Jakarta, (Rabu, 9 Mei 2007) – Bekerjasama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO dan Indonesian International Education Foundation (IIEF), Yayasan ‘Bina Antar Budaya’ menyelenggarakan kegiatan peringatan 50 tahun program AFS (American Field Service) di Indonesia dengan tema “Youth Intercultural Day 2007”. AFS adalah program pertukaran pelajar yang semula dicanangkan di Amerika Serikat, kemudian kegiatannya berkembang ke seluruh dunia.

Suyanto

 Prof. Suyanto, Ph.D, Dirjen Mandikdasmen

tengah memberikan Kata Sambutan (Dok: RTS)

Acara dibuka oleh Prof. Suyanto, Ph.D, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Mandikdasmen), yang didampingi oleh siswa/i AFS dari Jerman, Perancis, Belgia. Kemudian dilanjutkan dengan Kata Sambutan oleh Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, yang juga alumnus AFS tahun 1959-1960. Pada kesempatan tersebut penyair Taufik Ismail, yang juga alumnus AFS, berkenan menceritakan pengalamannya sebagai siswa AFS di daerah peternakan dekat Danau Michigan, Amerika Serikat.

 

Arief Rachman

                        Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd. tengah memberikan  Kata Sambutan. (Dok. RTS)

Setelah itu Direktur IIEF, Dr. Irid Agoes menyampaikan presentasi power-point tentang “Intercultural Concept”, yang menitikberatkan pada kemampuan menerima perbedaan sebagai langkah awal untuk dapat hidup dalam masyarakat multibudaya.

 

Irid Agoes

                       Dr. Irid Agoes tengah menyampaikan presentasinya 
                       di hadapan hadirin (Dok: RTS)

Dalam acara ‘sharing experiences’ para siswa/i AFS luar negeri yang sebelumnya mendampingi Dirjen Mandikdasmen bercerita tentang pengalamannya selama di Indonesia, antara lain tentang perubahan gambaran negara Indonesia; sebelumnya Indonesia terlihat hanya sebesar Pulau Bali, terdiri atas tsunami dan teroris. Tetapi ketika mereka menyaksikan langsung, ternyata Indonesia merupakan negara besar dan kaya sekali. Setelah itu 2 orang alumni AFS, Najwa Shihab dan Valerina Daniel, menceritakan pengalamannya selama menjadi siswi AFS dengan tema “How the Exchange Experience Contributes to Your Life & Career”. Puncak acara adalah workshop yang diikuti oleh siswa/i SMU sekitar 200 orang dan mereka dibagi dalam 3 kelompok diskusi dengan masing-masing tema, yakni: Tolerance dipimpin oleh Sdri. Jasmin Jasin, Managing Conflict dipimpin oleh Sdr. Sahala Harahap dan Responsibility – oleh Sdri. Herlina Surbakti.

Sebagai ketua penyelenggara Direktur Yayasan Bina Antar Budaya, Sdri. Karina Yufrizal, pada kesempatan itu juga menyampaikan, bahwa Yayasan Bina Antar Budaya bekerjasama dengan AFS Amerika pada tahun 2007 akan mengirimkan 120 siswa/i Indonesia kelas III SMA ke Amerika untuk mengikuti program AFS selama 11 bulan. Secara keseluruhan acara “Youth Intercultural Day 2007” yang dihadiri oleh sekitar 400 orang siswa/i dari berbagai SMA di Jakarta berjalan baik dan lancar. Diharapkan peserta yang rata-rata berusia 16 – 18 tahun betul-betul dapat mengambil manfaat positif dari suguhan kegiatan yang sarat dengan isu antar budaya, keterbukaan, toleransi, tanggung jawab, perdamaian dan sebagainya, yang notabene isu-isu tersebut sangat penting bagi pembentukan karakter bangsa.


Last Updated ( Tuesday, 05 June 2007 )
 
Kunjungan pejabat Komisi Nasional Filipina untuk UNESCO ke Jakarta
Written by Ratna T. Sinaga, Kasubbid Pendidikan   
Friday, 01 June 2007

Jakarta, (Selasa 8 Mei – Jumat, 11 Mei 2007) – Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Filipina untuk UNESCO, Madame Amb. Preciosa Soliven didampingi oleh seorang staf ahlinya Ms. Helen Sophia Balderama, selama 4 hari telah mengadakan serangkaian kunjungan ke berbagai institusi penting di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta. Mereka mengawali kunjungan ke kantor Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dan diterima oleh Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Harian KNIU beserta staf KNIU. Dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak saling tukar informasi tentang kegiatan KNIU dalam bidang Pendidikan, Sains dan Teknologi, Sosial, Kebudayaan dan Komunikasi.

                              Arief Rachman and Madame Soliven

                              Madame Soliven dan Prof. Dr. Arief Rachman (Dok: RTS)

Madame Soliven menerangkan tentang rencana pendirian “UNESCO Lifelong Learning Center for Sustainable Development in Asia Pacific”, yang akan dicanangkan pada Sidang Umum UNESCO ke-35 di Paris tahun 2009. Pendirian UNESCO Centre tersebut berfungsi sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia di kalangan keluarga dan desa yang masih terbelakang, sebagai pusat riset dan pengembangan belajar sepanjang hayat, sebagai pusat mekanisme koordinasi dalam kerangka pertukaran pengalaman, informasi dan pelaksanaan kegiatan, sebagai wadah pengembangan kualitas antar proyek masyarakat LSM yang mumpuni dan sebagai badan hukum yang bertanggungjawab penuh terhadap isu belajar sepanjang hayat guna pengembangan berkelanjutan.

  

Ace Suryadi and Madame Soliven

                                       Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Dr. Ace Suryadi tengah memimpin
                                       pertemuan dengan Madame Soliven (Dok: RTS)

Pada saat pertemuan dengan Dr. Ace Suryadi, Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas, beserta staf Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, pembahasan dan pembicaraan kedua belah pihak sangat padat dan menarik.

Madame Soliven memperoleh banyak masukan tentang Pendidikan Luar Sekolah, dari kunjungan ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat 35, juga dari brosur-brosur tentang Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keaksaraan, Pendidikan Kesetaraan hingga Pendidikan Perempuan. Dirjen PLS mengungkapkan bahwa isu pendirian UNESCO Centre di Filipina dapat menjadi suatu gagasan untuk National Centre for Lifelong Learning di Indonesia.

                               Ella Yulaelawati and Madame Soliven

                           Direktur Kesetaraan, Dr. Ella Yulaelawati tengah menjelaskan PKBM 35 (Dok: RTS)

Dalam pertemuan dengan Dr. Joko Sutrisno, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah sangat dominan dibahas tentang pendidikan kejuruan dan teknologi (VoTech). Madame Soliven mengakui, bahwa perkembangan pendidikan kejuruan di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup signifikan, terutama setelah mengunjungi SMK 27 di Pasar Baru, Jakarta. Diharapkan bahwa kunjungan berikutnya dapat menyaksikan SMK perikanan, SMK otomotif dan sebagainya.

                               Joko Sutrisno and Madame Soliven

Direktur Pembinaan SMK, Dr. Joko Sutrisno sedang berbincang dengan Madame Soliven (Dok: RTS)

Kunjungan Madame Soliven di Indonesia memberikan suatu masukan yang cukup signifikan bagi pendidikan Indonesia pada umumnya, yakni penguasaan bahasa Inggris bagi para siswa/i harus ditingkatkan.


Last Updated ( Tuesday, 05 June 2007 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 13 - 16 of 47
Indonesian National Commission for UNESCO | © 2006